Ini adalah salah satu tempat "escape" favorit. Salah satu dari sekian banyak pantai di Gunung Kidul. Ga terlalu lebar, garis pantainya mungkin sekitar 20-25 meter, diapit dua tebing di masing-masing sisinya. Masih banyak "pong-pongan" juga di sini. Masih sepi pula, karena akses yang tidak terlalu mudah, dari tempat parkir motor (tadi sih ga resmi parkir, saya naruh motor di antara motor-motornya petani) masih perlu jalan kaki sekitar 30 menit, padahal dari rumah nyampe ke tempat buat naruh kendaraan tu ga nyampe 1,5 jam. Di sepanjang perjalanan yang 30 menit itu yang dilewati adalah ladang penduduk. Kebetulan tadi baru pada manen kacang tanah. Ladang dan para petani inilah yang bikin 30 menit perjalanan tak kalah menariknya daripada pantainya. Saya menemukan akar ke-Jawa-an saya. Akar jiwa saya. Sesuatu yang ketika ada, bener-bener bikin nyaman. Mereka tersenyum, menyapa, ngobrol dengan saya yang notabene "orang asing". Lebih dari itu, ekspresi semacam "mangga pinarak" ("ikut gabung sini") "ngunjuk mriki mas" (minum sini mas" "mbeta kacang mas" ("silakan bawa kacangnya mas") dan sebagainya. Bukan semacam sapaan robot "cari apa kak?", "pulsanya sekalian kak?". Bukan pula semacam manusia yang bibirnya terprogram untuk bereaksi terhadap yang dikenali saja. Bukan juga semacam kampret yang saya pernah nulis, yang diajak senyum malah masang muka kemampleng. Buat saya sih, nuansa Jogja yang orisinil itu yang ada di sini, bukan lagi di Malioboro dengan segala pengunjungnya yang semua kaya orang terburu-buru. bukan di Tugu Jogja yang dipenuhi wisatawan foto yang tak peka situasu (bukan typo), bukan di titik nol yang dipenuhi nongkrongers yang sibuk sama grupnya sendiri. Buat saya, rasa Jogja itu salah satunya ada di antara ladang-ladang di Saptosari dengan segala penghuninya.
Sabtu, 20 Januari 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar