Sabtu, 20 Januari 2018

Kenapa suka hujan?

Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati hujan. Dari mulai bau tanah basahnya, hawa dinginnya, bunyi percik airnya. Saya bener-bener suka.
Hujan adalah salah satu dari sedikit hal yang bisa bikin saya tenang.
Kalo mo dirunut, hujan menemani masa remaja saya, ketika mulai bener-bener suka sama perempuan secara sukanya laki-laki sama perempuan, ketika pertama kali nyakitin perasaan perempuan yang saya suka, ketika ngrasain patah hati. Semua ada di musim hujan. Di satu musim hujan yang sama (yeah, i know.. Less than 6 months.. Menyedihkan wkwk)
Sampe sekarang masih ada efek nostalgik nya, selain emang karena mulai bisa menikmati hujan karena di luar hal itu.
Dan (mesti ada yg mbatin, dimana dia.  Ye kaaan?). Dia udah nikah dan berkembang biak.

Nah, tapi diluar kisah saya yang lumayan ga mutu ini, mari kita lihat hujan dari aspek yang lebih ilmiah. Ini saya dapet dari artikel di Deutsche Welle.

Nama aroma hujan tu Petrikor, yang ngasih nama ilmuwan dari Australia pada taun 1964. Aroma ini berasal dari senyawa nabati dan senyawa alkohol bernama Geosmin yang dilepaskan oleh tumbuhan saat cuaca kering. Tapi, kenapa baunya bisa berbeda-beda? Ilmuwan dari Massachusetts Institute ofTechnology ngelakuin riset buat ini. Mereka merekam rintik hujan yang jatuh. Ternyata benturan antara air dengan tanah tu menimbulkan gelembung yang asalnya dari partikel terkecil dari dalam tanah. Ini disebut Aerosol, ini juga yang mengandung aroma hujan. Tanah yang kering semakin mudah memunculkan aromanya. Sedangkan pemicu yang lebih kuat ternyata adalah rinai alias hujan yang tidak terlalu deras. Masalahnya, ternyata selain menebar aroma, perpaduan air hujan dan tanah kering ini juga berpotensi melepaskan bakteri sama virus yang ada di tanah. Kayanya, itu sebabnya kenapa pas hujan masih awal2 gitu bikin orang lebih gampang kena flu. Tetap sehat ya teman-teman.

Di Ladang-Ladang di Saptosari

Ini adalah salah satu tempat "escape" favorit. Salah satu dari sekian banyak pantai di Gunung Kidul. Ga terlalu lebar, garis pantainya mungkin sekitar 20-25 meter, diapit dua tebing di masing-masing sisinya. Masih banyak "pong-pongan" juga di sini. Masih sepi pula, karena akses yang tidak terlalu mudah, dari tempat parkir motor (tadi sih ga resmi parkir, saya naruh motor di antara motor-motornya petani) masih perlu jalan kaki sekitar 30 menit, padahal dari rumah nyampe ke tempat buat naruh kendaraan tu ga nyampe 1,5 jam. Di sepanjang perjalanan yang 30 menit itu yang dilewati adalah ladang penduduk. Kebetulan tadi baru pada manen kacang tanah. Ladang dan para petani inilah yang bikin 30 menit perjalanan tak kalah menariknya daripada pantainya. Saya menemukan akar ke-Jawa-an saya. Akar jiwa saya. Sesuatu yang ketika ada, bener-bener bikin nyaman. Mereka tersenyum, menyapa, ngobrol dengan saya yang notabene "orang asing". Lebih dari itu, ekspresi semacam "mangga pinarak" ("ikut gabung sini") "ngunjuk mriki mas" (minum sini mas" "mbeta kacang mas" ("silakan bawa kacangnya mas") dan sebagainya. Bukan semacam sapaan robot "cari apa kak?", "pulsanya sekalian kak?". Bukan pula semacam manusia yang bibirnya terprogram untuk bereaksi terhadap yang dikenali saja. Bukan juga semacam kampret yang saya pernah nulis, yang diajak senyum malah masang muka kemampleng. Buat saya sih, nuansa Jogja yang orisinil itu yang ada di sini, bukan lagi di Malioboro dengan segala pengunjungnya yang semua kaya orang terburu-buru. bukan  di Tugu Jogja yang dipenuhi wisatawan foto yang tak peka situasu (bukan typo), bukan di titik nol yang dipenuhi nongkrongers yang sibuk sama grupnya sendiri. Buat saya, rasa Jogja itu salah satunya ada di antara ladang-ladang di Saptosari dengan segala penghuninya.