Kamis, 10 Juli 2014

Catatan Kecil Tentang Pemilu Legislatif

Tadi pulang kehujanan, mungkin karena kademen, tiba2
kepikiran satu hal. Tentang imbauan untuk menyikapi politik
uang, "terima uangnya, jangan pilih partainya, (kadang
ditambahi) doakan biar caleg yang ngasih uang stress"
Tapi ya itu tadi, gara2 kehujanan, otak kedinginin jadi
kepikiran, emang ini solusi untuk menjadikan masyarakat
Indonesia lebih baik?
Sistem politik Indonesia memang sayangnya masi pada
tataran kaya gitu, termasuk juga kampanye dengan
pengerahan massa yang didalihkan bahwa itu boleh, karena
hanya 5 taun sekali.. zzzzzz,,capeeee deh..
Oke, kembali ke politik uang.
Sangat disayangkan bahwa menjadi anggota legislatif
sekarang kayanya bukan menjadi wakil rakyat untuk
selanjutnya menjadi suara Tuhan, sebagai mana hal yang
digaung2an oleh para pendukung demos kratos..
Menjadi anggota legislatif menjadi sebuah profesi, bukan
keistimewaan sebagai wakil rakyat, tapi beneran jadi profesi
buat nyari duit.
Maka dengan motivasi yang seperti itu, cara untuk menjadi
anggota legislatif bukan lagi mendekati rakyat, menunjukkan
keberpihakan, kesamaan nasib agar dipercaya sebagai wakil,
namun seperti dagang saja, membeli untuk selanjutnya
mendapat untung yang lebih banyak.
Yang dibeli? Ya suara pemilih.. karena sudah ada aspek jual
beli, maka ya jangan disalahkan kalo ntar suara itu
disalahgunakan, kan udah dibeli,,semau dia yang beli dong,
kalo yang beli baik, mau menggunakan suara yang didapat
untuk diperjuangkan aspirasinya, ya Alhamdulillah, tapi kalo
mo diselewengkan ya terserah namanya juga udah dibeli.
Pembelian suara tidak dipungkiri bisa memberikan hasil yang
signifikan, namun ada fenomena baru pada pemilu taun ini,
yang mungkin sebenernya sudah ada pada pemilu2
sebelumnya, namun baru pada pemilu kali ini fenomena itu
terasa begitu ramai.
"Tampa duite (terima uangnya), rasah pilih partaine (ga usah
dipilih partainya), dongake ben caleg e njuk stress (doain
biar calegnya stress)".
Di satu sisi imbauan ini terasa manis, pada level yang amat
pendek menurut saya, calon pemilih dapet uang, caleg pelaku
politik uang tidak terpilih, bahkan untuk menambah efek
ngenesnya, calegnya pun didoain biar stress.
Tapi apakah permasalahannya berhenti disitu? Dalam opini
pribadi saya, sudahlah, jangan sampai imbauan "terima
uangnya, jangan pilih partainya" dilanjutkan lagi, cukup
sampai titik ini saja.
Kalo dirunut dari awal, Caleg yang ngasi duit buat beli itu
jelas salah.
Penerima yang memilih caleg yang ngasih uang juga salah,
karena menggadaikan suara dan masa depannya untuk uang
yang kalo dibanding dengan kehidupan selama 5 taun jelas
tak ada apa2nya.
Tapi, penerima yang tidak milih caleg, dan malah mendoakan
agar caleg stress, juga jelas salah. Orang yang memberi
imbauan agar menerima uang, dan tidak memilih caleg yang
ngasi uang juga salah.
Orang yang menerima uang tapi tidak milih, salah karena dia
melanggar komitmen, mengingkari janji. Untuk kasus seperti
ini mungkin ada banyak yang membela tindakan mereka, tapi
harus diingat, kebiasaan buruk yang kecil, kalo diteruskan
membesar, dan akan menghancurkan. Tidak berkomitmen
dan mengingkari janji adalah elemen terpenting dari
kehancuran mental, membentuk mental2 penipu, membentuk
mental2 manipulator, membentuk koruptor dalam skala kecil,
yang tetap saja namanya koruptor.
Orang yang memberi imbauan agar menerima uang tapi tidak
memilih juga tidak pantas untuk dipilih, orang yang ngajari
nipu, ingkar janji, tidak berkomitmen. Apa yang bisa
diharapkan? Bahkan jeleknya, dia mencoba mengambil
keuntungan dari dana yang dikeluarkan caleg lain dengan sok
jadi pahlawan, dengan ngasih imbauan kaya gitu.
Njuk karepmu opo We?
Karep saya, hentikan politik uang sejak awal, kalo masi ada
caleg yang ngasi, TOLAK, katakan TIDAK pada mereka yang
ngasih uang. Tidak selayaknya anda menggadaikan suara,
tidak selayaknya pula anda jadi penipu. Tunjukkan bahwa
anda warga Indonesia yang berkomitmen pada kejayaan
Indonesia, kalo ada caleg yang ngasi uang, tunjukkan bahwa
anda warga Indonesia yang hebat, yang takkan tergiur pada
ribuan rupiah dan mengorbankan kehormatan anda sebagai
dengan menjadi pelacur suara, ato menjadi penipu caleg.
Tunjukkan bahwa anda jauh lebih hebat daripada itu.
Jika anda berargumen bahwa 'terima uangnya, jangan pilih
uangnya' adalah cara untuk memberi pelajaran pada caleg
yang melakukan politik uang, maka izinkan saya
menceritakan sesuatu.
Tentang Brandal Lokajaya, orang yang merampok untuk
kemudian hasil rampokannya diberikan kepada warga miskin.
Sesuatu yang diyakininya benar, yang amalan yang mulia,
membantu orang yang membutuhkan. Hingga suatu hari dia
bertemu seorang tua, yang lantas bertanya kepadanya
"Brandal Lokajaya, apakah pakaian yang dicuci dengan air
kencing itu bersih dan mensucikan? Ingatlah, bahwa apa
yang kau pandang kebaikan, namun dilakukan dengan cara
yang salah sesungguhnya serupa dengan mencuci baju
dengan air kencing, tidak membersihkan dan juga tidak
mensucikan"
Brandal Lokajaya pun menyatakan tunduk pada orang tua
itu, yang tak lain adalah Sunan Bonang, dan kemudian pada
gilirannya Brandal Lokajaya pun mendapat gelarnya sendiri
sebagai sunan yaitu, Sunan Kalijaga.
wallahualam bishowab, karena kebenaran hakiki memang
hanya milik Allah.
Bantul, 11 April 2014

Tidak ada komentar: